informasi ibu dan anak, parenting, keluarga, bayi, kehamilan>

10 Resiko Susu Formula yang Harus Anda Tahu

Iklan susu formula di Indonesia sangat menarik perhatian ibu-ibu. Padahal dibalik itu semua terdapat resiko susu formula yang bisa muncul sewaktu-waktu. Resiko susu formula bisa dirasakan langsung ada pula yang dalam jangka waktu lama.  Bila tidak cocok dengan susu formula terntentu, bayi bisa sering muntah dan diare.

Berdasarkan rekomendasi WHO, ibu sebaiknya menyusui eksklusif selama enam bulan (180 hari). Dilanjutkan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) (baca juga: panduan lengkap MPASI menurut WHO) dengan tetap memberikan ASI sampai usia 2 tahun lebih. Beberapa ibu memutusan untuk mengganti Asi ketika telah disapih dengan susu formula. Penyapihan dilakukan dengan beberapa alasan, tapi tidak perlu digantikan dengan susu formula (baca juga: mengapa bayi harus disapih?). WHO, sebagai badan kesehatan dunia tidak menganjurkan penggunaan susu formula untuk menggantikan ASI.

Selain itu, Kementrian kesehatan juga melarang pemberian susu formula oleh tenaga kesehatan. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 tahun 14, pasal 2 ayat 4 berbunyi tenaga kesehatan wajib tidak memberikan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya, kecuali atas indikasi medis, ibu tidak ada, atau ibu terpisah dari bayi. Sedangkan pada pasal 2 ayat 6 berbunyi; tenaga medis wajib tidak menerima dan/atau mempromosikan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif;

Rekomendasi beberapa badan kesehatan ini terkait dengan efek atau resiko susu formula yang mungkin muncul. Para peneliti terus bekerja keras dalam mengkaji resiko dan resiko susu formula. Berikut beberapa resiko susu formula;

  1. Meningkatkan resiko alergi bayi

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Saarinen UM, Kajosari M, ditemukan bahwa anak yang mendapatkan ASI memiliki resiko lebih rendah terkena penyakit atopik seperti alergi makanan. Bahkan alergi tersebut dapat mengakibatkan gangguan pernafasan. Dikutip dari laman aimi-asi.org bayi yang memiliki riwayat asma/gangguan pernafasan karena memiliki riwayat alergi dari keluarganya, diteliti untuk penyakit dermatitis atopik dalam tahun pertama kehidupannya. Menyusui eksklusif selama tiga bulan pertama diakui dapat melindungi bayi dari penyakit dermatitis.

  1. Resiko susu formula dapat memicu berbagai penyakit

Apa yang dikonsumsi anak anda ada masa bayi dan anak-anaknya mempengaruhi kesehatannya dimasa dewasa dan tua. Anda perlu cermat dalam menjaga asupan gizi sikecil (baca juga: ini cara menjaga kebutuhan gizi sikecil). Susu formula yang dikonsumsi terus menerus dapat memicu beberapa penyakit, antara lain:

  • Asma
  • Diabetes
  • Kanker
  • Oklusi pada gigi
  • Infeksi Saluran Pernafasan
  • Kardiovaskular (jantung)
  • Obesitas
  • Infeksi Saluran Cerna
  • Infeksi telinga dan otitis media
  1. Daya tahan tubuh lemah

 Anak-anak yang diberi susu formula lebih rentan terkena infeksi atau jatuh sakit dibandingkan dengan anak yang diberi ASI. Hal ini karena susu formula tidak mengandung antiobik alami seperti ASI.

  1. Meningkatkan resiko asma

Sebuah penelitian di Arizona menemukan adanya hubungan antara menyusui dan gangguang pernafasan. Anak yang tidak menyusu memiliki resiko gangguan pernafasan tiga kali lebih besar dibanding anak yang menyusu.

  1. 5. Menghambat perkembangan kognitif

Bayi yang disusui ASI eksklusif sekurang-kurangnya 6 bulan tanpa tambahan vitamin dapat membantu perkembangan kognitif dan pertumbuhan fisik lebih baik. Dimana perkembangan tersebut jauh lebih baik dengan anak yang disusui dengan susu formula.

  1. Meningkatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)

Susu formula dapat mengakibatkan resiko infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) atau pneunomia. Resiko ini dapat dikurangi jika bayi mendapatkan ASI ekslusif. Beberapa penelitian  menunjukkan bahwa bayi yang hanya mendapat susu formula memiliki resiko tiga kali lebih besar ketimbang bayi yang mendapat ASI eksklusif minimal 4 bulan atau lebih.

  1. Meningkatkan resiko oklusi gigi pada anak

Menyusui dapat membuat gigi anak tumbuh dengan rapi dan teratur. Berbeda dengan penggunaan botol susu yang justru dapat merusak kontur gigi anak. Botol susu memberikan tekanan pada gusi bayi yang kemudian memperngaruhi tumbuh kembang giginya. (baca juga: resiko penggunaan dot/empeng bayi).

  1. Meningkatkan resiko diabetes

Susu formula dapat meningkatkan antibodi beta-casein yang dapat mengakibatkan diabetes type 1. ASI eksklusif dapat mencegah pembentukan anti-bodi beta-casein sehingga dapat mengurasi resiko diabetes. Pada awalnya, anak ASI memang tumbuh nampak lebih lambah dengan anak susu formula, dilihat dari perkembangan fisiknya. Anak yang hanya menerima susu formula terlihat lebih gemuk. Namun, dalam perkermbangannya anak ASI bisa berkembang lebih pesat ketimbang anak susu formula.

  1. Meningkatkan resiko infeksi saluran pencernaan

Kadangkala kandungan dalam susu formula dapat mengakibatkan infeksi saluran cerna yang ditandai dengan mencret atau diare. Beberapa susu formula mungkin tidak cocok dengan pencernaan sikecil.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan dibagikan melalui tombol di atas. Jangan lupa bookmark untuk memudahkan berkunjung kembali. Jangan enggan untuk berkomentar agar bisa saling belajar. Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Google+


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*