informasi ibu dan anak, parenting, keluarga, bayi, kehamilan>

ASI Tidak Keluar? Ini yang Harus Anda Lakukan

Tatkala pertama kali menyusui, kemungkinan beberapa ibu mengalami masalah ketika pertamakali menyusui sikecil. ASI keluar sedikit atau bahkan tidak keluar kerapkali menjadi alasan untuk memberikan tambahan susu formula (sufor). Padahal, ASI tetap yang terbaik bagi bayi. Kandungan ASI sesuai dengan kebutuhan bayi dan tidak dapat ditemukan dalam susu apapun.

Hukum Menyusui Anak Bagi Seorang Ibu

ASI adalah hak anak yang paling dasar. Sebagai ibu, memberikan ASI adalah sebuah kewajiban. Sejak dahulu, susu sapi, susu onta dan susu kambing sudah dimanfaat sebagai salah sumber nutrisi. Namun, dalam Islam manusia sebaiknya disusui oleh manusia. Bahkan, perintah Allah SWT untuk menyusui sudah sangat jelas.

 Dalam surat Al Baqarah ayat 233 disebutkan:

Surat Al-Baqoroh Ayat 233
Surat Al-Baqoroh Ayat 233

Terjemahan:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).

Beberapa hal yang bisa dijadikan pedoman dari ayat diatas adalah sebagai berikut:

  1. Bagi seorang ibu, hukumnya wajib untuk menyusui anak-anaknya.
  2. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah yang paling maha Rahim (Maha Penyayang) bagi seluruh makhluknNya dari pada kasih sayangnya seorang ibu kepada anaknya, karena Allah Ta’ala memerintahkan kepada para ibu untuk menyusui, padahal hal itu sudah merupakan fitrah dan naluri mereka.Hal ini menunjukkan bahwa rahmat Allah Ta’ala sangat jauh lebih luas dan agung daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
  3. Bahwasanya perintah menyusui yang sempurna adalah selama dua tahun penuh.
  4. Dan boleh bagi ibunya menyusui kurang dari dua tahun, akan tetapi hal itu dimusyawarahkan terlebih dahulu (oleh kedua orang tua anak tersebut), dan dengan keridhaan keduanya dan kemashlahatan bagi bayinya, jika memadharatkan anaknya maka hal itu dilarang.
  5. Jika ingin menyusukan anak ke orang lain, ada baiknya memberikan nafkah/bayaran yang sesuai.

Hukuman bagi ibu yang tidak mau menyusui anaknya padahal dia mampu sangat berat. Yaitu disiksa di neraka:

Rasulullah SAW bersabda, “Tiba-tiba aku melihat para wanita yang payudara-payudara mereka dicabik-cabik ular yang ganas. Maka aku bertanya: ‘Kenapa mereka?’ Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para wanita yang tidak mau menyusui anak-anaknya (tanpa alasan syar’i)’. ” (HR Al-Hakim) – Asy-Syaikh Muqbil rahimahullaah dalam Al-Jami’ush Shahih berkata: “Ini hadits shahih dari Abu Umamah Al-Bahili”.

Tak hanya dari Islam yang menyarankan menyusui, pemerintah juga mengeluarkan peraturan dimana tenaga kesehatan harus mendahulukan ASI dibandingkan asupan makanan yang lain. Bahkan, nakes dilarang mempromosikan atau sekedar menyarankan konsumsi sufor.

Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif Pasal 17 ayat (2): “Setiap Tenaga Kesehatan dilarang menerima dan/atau mempromosikan Susu Formula Bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif”.

Penyebab ASI tidak Keluar

panduan menyusui bayi baru lahir

Membaca ulasan diatas, jelas bahwa ASI harus tetap diutamakan dan diupayakan. Berbagai alasan diungkapkan sehingga ASI tidak diberikan. Misalnya ASI tidak keluar, ASI hanya sedikit sehingga harus dibantu sufor. Padahal Agama Islam dan pemerintah sudah memerintahkan para ibu untuk menyusui anaknya.

ASI tidak keluar atahu hanya sedikit bisa terjadi karena beberapa hal, berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi:

1. Tidak dilakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini)

 Pasca persalinan, rata-rata bayi langsung dibawa ke ruang perawatan bayi untuk ditimbang, dimandikan dan dikenakan pakaian. Jika sudah selesai, baru disusukan pada ibu. Beberapa kasus saecar justru baru bisa ketemu bayinya setelah beberapa jam kemudian, atau malah besok harinya. Dalam jeda waktu-waktu tersebut, beberapa nakes justru memberikan susu formula untuk bayi. Padahal, bayi mampu bertahan hidup selama tiga hari pasca persalinan sebelum disusui. Nah, jeda waktu yang terlalu lama bisa menjadi salah satu penyebab bayi kesulitan menerima ASI ketika disusui untuk kali pertama.

2. Kurangnya informasi tentang ASI

dr Utami Roesli seringakali menjadi narasumber perihal laktasi. Sedang dr Fransiskaa Sri Susanti merupakan konselor laktasi yang praktek di RS PMI Bogor. Mereka berdua menyatakan, “Semua perempuan yang punya kelenjar payudara bisa melakukan relaktasi atau induksi laktasi walaupun tidak punya anak sekalipun. Contoh ibu adopsi bila rajin menyusui anak adopsinya secara rutin dan benar maka akan keluar ASInya. Pengalaman saya membuktikan banyak yang berhasil, yang penting ada niat.”

Baca juga : Cara Tepat Melakukan Pelekatan Saat Menyusui

3. Menempel pada sisi yang salah

 Saat menyusui, mulut bayi harus dalam keadaan terbuka lebar agar tidak hanya mengisap bagian puting tapi juga bagian aerola payudara. Jika bayi tidak menempel pada payudara dengan benar, air susu tidak akan keluar dengan baik. selain itu, ibu juga akan mengeluhkan putingnya nyeri. Beberapa dokter menyarankan untuk mengelitik area mulut bayi dengan puting agar bayi membuka mulutnya lebar-lebar. Setelah bayi membuka mulutnya lebar-lebar, angkat bayi keatas, biarkan ia menyusu sampai melepaskannya dengan sendiri.

Dalam proses menyusui, beberapa ibu mungkin mengalami puting tenggelam. Namun, mama tidak perlu khawatir karena puting yang tenggelam tidak berpengaruh pada proses menyusui. Inti dari pelekatan menyusui adalah aerola bukan putingnya.

4. Stres menghambat produksi ASI

Tidak semua ibu yang habis melahirkan bisa langsung mengeuarkan ASI. Sebagian ibu harus belajar terlebih dahulu, termasuk bayi. jika percobaan pertama, kedua dan ketiga gagal, jangan langsung stres. Hal itu memicu ibu untuk menyerah memberikan sufor pada bayi.

Dalam proses menyusui kali pertama memang tidak selalu lancar. Bayi membutuhkan ketenangan ibu. Ambil nafas dalam perlahan. Ketika bayi anda gelisah, ibu justru harus tenang. Bayi tidak sedang mengalami masalah, ia hanya frustasi. Semakin anda tenang, bayi juga mudah ditenangkan.

5. Mencari posisi yang benar untuk menyusui

Posisi menyusui sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Beberapa posisi mungkin menguntungkan untuk ibu, namun posisi menyusui sebenarnya tidak terlalu berpengaruh dalam proses menyusui. Itulah konsep yang selama ini disodorkan pada kita. Yang penting, ibu merasa nyaman, lalu letakkan bayi di atas dada. Kepalanya di bawah dagu ibu, dan perutnya di atas perut ibu. Bayi akan bergerak sendiri ke arah payudara, kemudian ibu dan bayi akan menemukan posisi yang pas.

6. Tidak mendapatkan dukungan

 Jika Anda selalu dikelilingi oleh pengaruh negatif, carilah dukungan yang positif. Jika Anda tidak memiliki teman dekat atau keluarga yang memiliki pengalaman menyusui yang baik, carilah komunitas ibu baru sesama ibu menyusui. Dukungan dari ibu ke ibu akan sangat berarti ketika Anda sudah membawa bayi pulang ke rumah.

7. Membuat bayi mengikuti jadwal menyusui

Bayi punya kebutuhan, bukan keinginan. Artinya, bayi akan ingin menyusu ketika lapar. Jadi, tawarkan dulu ASI, karena menyusu bukan masalah makanannya. Memberlakukan jadwal menyusu pada bayi yang baru lahir itu seperti mencoba menggiring kucing. Tidak akan sukses, dan hanya akan membuat ibu dan si bayi frustrasi.

8. Memberikan susu botol atau dot terlalu cepat

Ini juga sering terjadi.  karena alasan-alasan di atas, bunda pun menyerah, kemudian memerah ASI dan menyodorkan botol dot kepada si bayi.  Akibat yang sering terjadi adalah bingung puting, kemudian ASI mati karena tidak pernah

9. Berhenti menyusui karena harus bekerja lagi

Semua ibu pasti berat meninggalkan bayinya, ketika cuti hamil sudah berakhir. Selain itu, ibu juga akan menemukan tantangan baru, seperti menemukan tempat yang bersih dan tenang untuk memompa ASI, dan mengkoordinasikan waktu sepanjang hari. Jangan lekas menyerah dengan tantangan ini.  Lebih baik bicarakan hal ini dengan boss, karena hak ibu mendapatkan kemudahan untuk bisa memberi ASI.  Ini dijamin pada pasal 30 ayat (3) PP ASI  tahun 2012 “pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan. “

10. Tidak percaya diri

Kesalahan terbesar adalah selalu meragukan diri sendiri mengenai keputusan menyusui,Karena tidak yakin ASInya mampu memenuhi gizi bayi, karena kelelahan, karena menguluarkan ASI penuh perjuangan, sehingga sering keputusan instan, memberi sufor menjadi alternatif yang cepat diambil.  Kemudian karena tidak sering disusui jelas ASI semakin sedikit sehingga rata-rata ibu merasa keputusan tepat, mengalihkan ke sufor dan melakukan penyapihan dini.

Tips Agar ASI Lancar dan Sukses Menyusui 

Menyusui saat Puasa/id.theasianparent.com/
Menyusui/id.theasianparent.com/

Lalu, bagaimana supaya ibu sukses memberikan ASI?  Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran:

1.Penuhi kebutuhan nutrisi

Sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi secara seimbang dan baik. Hal ini bertujuan agar ASI yang keluar dapat lancar dan eksklusif.

2.Meningkatkan frekuensi menyusui, memompa dan memeras ASI

Hal ini bertujuan untuk menciptakan produksi ASI yang banyak. Dapat diketahui bahwa semakin jarang si bayi disusui oleh ibunya, maka semakin berkurang produksi ASI oleh sang ibu. Jika sang ibu pun sibuk bekerja, jarang bekerja dan takut akan berkurangnya produksi ASI, maka sang ibu tersebut dapat menggunakan alat khusus yang berfungsi untuk memompa payudara agar produksi ASI tetap banyak.

 3.Meminimalisir tingkat gangguan psikologis yang dialami

Gangguan ini misalnya seperti stres, dll. Stres sendiri dapat mengakibatkna produksi ASI berkurang. Ini terjadi karena sang ibu tidak dalam keadaan rileks, tenang, dan senang. Faktor kejiwaan pun menjadi penyebab berkurangnya ASI dan berakibat buruk terhadap sang bayi karena jumlah ASI yang mereka hisap semakin sedikit.

4.Merawat payudara

ASI memang tergantung terhadap nutrisi yang terkandung di dalam tubuh sang ibu. Akan tetapi menjaga keindahan bentuk payudara pun juga sangat penting karena banyak perempuan yang tidak mau menyusui anaknya hanya gara-gara mereka takut payudara merea menjadi lembek dan tidak kencang. Oleh karena itu diperlukan sedikit perawatan untuk payudara sang ibu. Caranya adalah dengan memijat-mijat payudara, membersihkan payudara dengan menggunakan air hangat dan air dingin secara bergantian.

Kalau semua itu bisa dilalui oleh ibu pasca melahirkan, maka tidak ada istilah “ASI saya habis.” “ASI saya sedikit” dll karena faktanya dari sekian banyak ibu hanya 1% yang benar-benar tidak bisa menyusui tanpa sebab, 99% nya punya kelenjar laktasi dan bisa menyusui. Sebelum melahirkan, ada baiknya ibu konsultasi ke nakes yang pro ASI dan juga ke klinik laktasi, semua rumah sakit sudah memiliki klinik konsultasi laktasi.  Begabunglah dengan komunitas pro ASI, di FB ada AIMI dan TATC yang akan membantu ibu untuk bisa menyusui dengan benar.

Ayo ibu, buat yang muslimah terutama, bahwa Allah bahkan memerintahkan para ibu untuk menyusui, jadi jelas Allah tidak akana mempersulit ibu semua menyusui.

Bahkan pemerintah sudah mengeluarkan PP ASI tahun 2012, yang sayangnya jarang disosialisasikan nakes.  Ada kewajiban lho, PP ASI juga mewajibkan: Pasal 6 PP ASI tahun 2012 menyebutkan bahwa pemberian ASI eksklusif itu wajib dilakukan oleh para Ibu.

Pengecualian Kewajiban Memberikan ASI Eksklusif

Hanya ada 3 pengecualian berdasarkan Pasal 7 PP ASI tahun 2012, terdapat pengecualian terhadap kewajiban pemberian ASI eksklusif yakni jika terdapat:

  1. Indikasi medis.
  2. Ibu tidak ada; atau
  3. Ibu terpisah dari Bayi.

Jadi Ibu, kenapa kita masih meragukan kemampuan kita bisa memberi ASI?

 

Sumber: Grub Bee Kids (Tumbuh Kembang Anak)

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan dibagikan melalui tombol di atas. Jangan lupa bookmark untuk memudahkan berkunjung kembali. Jangan enggan untuk berkomentar agar bisa saling belajar. Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Google+


2 Comments on ASI Tidak Keluar? Ini yang Harus Anda Lakukan

    • Batul sekali. Saya sepakat. Ayah juga harus paham soal ASI agar bisa mendukung ibu. Dukungan ayah akan sangat penting bagi ibu dan kelancaran ASI> Terimakasih sarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*