informasi ibu dan anak, parenting, keluarga, bayi, kehamilan>

Panduan MPASI tanpa Gula dan Garam bagi Bayi

Tahukah anda bahwa dalam memberikan MPASI, anda tidak perlu menambahkan garam? Sebaiknya jangan menambahkan garam dalam bubur bayi ya, Mam. Pasalnya, bayi masih sangat sensitif terhadap garam. Tekanan darah bayi dapat melonjak tingga saat bayi mengkonsumsi garam dari makanannya. Dampak yang dirasakan pun dapat berlangsung lama. Kebutuhan yodium pada bayi sudah tercukupi dari ASI dan makanan yang ia konsumsi. Kacang-kacangan, sayur dan daging sudah mengandung kadar garam alami yang sudah mampu mencukupi kebutuhan bayi.

Jadi, apakah bayi harus diberi makanan hambar? Tentu tidak, mom. Sebenarnya bayi tidak merasa hambar, namun karena lidah kita sudah terbiasa dengan makanan asin maka bubur bayi akan terasa hambar.

Mulut bayi belum mengalami perkembangan yang sempurna sehingga dia tidak terlalu preferensi terhadap rasa asin. Jadi, makanan yang kira rasa hambar, bagi bayi masih terasa enak.

Dapatkah ginjal bayi memproses garam? Tentu belum, ginjal bayi belum siap memproses garam dalam jumlah yang tinggi. Sistem pencernaan bayi masih bisa dikatakan rapuh. Perlu mama tahu, salah satu bagian organ bayi yang paling rapuh adalah ginjal. Jika bayi terlalu banyak mengkonsumsi garam dari makanan tambahan bisa merusak perkembangan otak bayi. Terlalu banyak garam juga dapat meningkatkan resiko kegemukan, hipertensi dan penyakit jantung pada usia muda.

Panduan MPASI dengan Metode WHO Edisi Lengkap

Tahap Kenaikan Tekstur MPASI Bayi Berdasarkan Usia

10 Kunci Sukses Mengenalkan MPASI Pertama Pada Bayi

Bolehkah Menambahkan Gula pada Makanan Bayi?

Lalu, apakah gula boleh ditambahkan dalam makanan bayi? Tidak, Ma. Sama seperti garam, bayi disarankan tidak mengkonsumsi gula terlalu banyak. Konsumsi gula berlebih pada bayi dapat meningkatkan resiko kegemukan dan diabetes. Jadi, sebaiknya mama membiasakan konsumsi makanan sehat dan seimbang dengan mengurangi asupan gula garam. Kebiasaan sehat tersebut tidak hanya berlaku untuk bayi tapi juga untuk semua usia.

Untuk menjaga kualitas Makanan Pendamping ASI (MPASI), ada baiknya ibu memang menyiapkan sendiri dengan bahan makanan yang ada dirumah. Meski saat ini banyak makanan bayi instan, sebaiknya makanan tersebut hanya diberikan saat anda dalam kondisi terdesak, misalnya saat dalam perjalanan jauh. Pada dasarnya, anda tetap bisa menyiapkan MPASI rumahan meski dalam perjalanan.

Bumbu yang Boleh digunakan sebagai MPASI

Meski bayi tidak boleh menggunakan gula, garam dan merica, bukan berarti ia tidak boleh mengkonsumsi bumbu dapur ya, Ma. Mama boleh menambahkan bumbu dapur alami seperti jahe, bawang, salam dan sebagainya. MPASI bayi dengan bumbu dapur akan lebih harum dan sehat.

Kapan Boleh Menambahkan Gula dan Garam?

Pada usia satu tahun, ginjal bayi sudah lebih siap dan matang. Pada usia inilah anda boleh menambahkan sedikit gula dalam makanan sikecil. Kebiasaan mengkonsumsi makanan sehat merupakan modal awal untuk kesehatan bayi dimasa yang datang. Pastikan juga untuk membiasakan sikecil dengan makanan berwarna seperti wortel, tomat, beras merah, bayam, brokoli dll.

Garam hanya boleh diberikan 1 gr dengan 0,4 gr natrium setiap harinya pada bayi berusia 6-12 bulan. Kebutuhan garam tersebut telah terpenuhi dari makanan pendamping serta ASI. Jika usia anak menginjak 1-3 tahun kebutuhan garamnya mencapai 2 gr setiap harinya dengan mengandung 0,8 gr natrium. Pada usia ini ibu dapat menambahkan garam dapur sebanyak ¼ sendok teh. Bagaimana jiga ada tambahan rasa dari margarin, mentega dan keju? Margarin, mentega dan keju memiliki cita rasa yang dapat meningkatkan makan anak. Mengingat margarin, mentega dan keju mengandung banyak garam ada baiknya diberikan pada bayi berusia 8 bulan ke atas. Dan carilah margarin, mentega dan keju yang rendah akan natrium dengan memeriksa keterangan pada kemasan.

Kenapa Bayi Tidak Membutuhkan Garam Tambahan?

Anjuran untuk tidak memberikan gula-garam sebelum usia 1 tahun, adalah untuk membentuk dasar citarasa anak agar tidak suka pada rasa asin berlebihan (banyak garam). Alasan lain, garam tidak perlu ditambahkan ke dalam MP-ASI, karena organ dalamnya -terutama ginjal yang berfungsi menyaring garam- belum siap bekerja optimal. Pemberian garam akan membebani ginjal. Ginjal yang sering kelelahan lebih rentan terganggu kesehatannya. Selain itu, asupan natrium sudah cukup didapatkan bayi dari ASI dan MP-ASI.

Setelah si kecil melewati 1 tahun, hingga ia berusia 2 tahun, kebiasaan tanpa garam tetap bisa dijalankan. Tetapi tidak perlu menjadi aturan kaku. Yang penting, Anda tidak dengan sengaja menambahkan garam ke dalam makanan anak – apalagi dalam jumlah berlebihan (batas asinnya mengikuti ambang citarasa ortu).

Bayi membutuhkan garam dalam jumlah yang sangat sedikit karena tubuh bayi belum dapat mencerna dan menguraikan garam yang ditambahkan. Kebutuhan garam pada bayi 0-6 bulan kurang dari 1 gr/hari, sedangkan pada bayi 6-12 berkisar 1 gr/hari. Jumlah tersebut sudah terkandung dalam ASI/sufor dan makanan alami yang diberikan sebagai mp-asi. Pemberian tambahan garam yang melebihi kebutuhan dapat memperbesar resiko hipertensi dan osteoporosis (konsumsi garam berlebih dapat menyebabkan berkurangnya kalsium melalui urine, sehingga menyebabkan berkurangnya kekuatan tulang).

Tentang garam vs yodium, *tidak benar* bahwa hanya garam yang menjadi sumber yodium. Bahwa garam memang kaya yodium, itu betul. Tapi itu garam laut/garam murni/garam krosok yang dipanen langsung dari tambak garam. Jika Anda mengonsumsi garam olahan pabrik, apalagi yang sudah putih mawur, dijamin kandungan yodiumnya sudah hilang – kecuali jika diperkaya dengan tambahan garam sintetis. [Nah, masalahnya yodium sintetis yg ditambahkan umumnya kurang stabil dan mudah rusak pada suhu pemasakan. Belum lagi nutrisi sintetis daya serapnya tidak setinggi nutrisi alami.

Semua bahan makanan berasal dari laut, kaya dengan yodium. Contohnya: ikan, rumput laut. Bawang merah juga sangat kaya yodium.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan dibagikan melalui tombol di atas. Jangan lupa bookmark untuk memudahkan berkunjung kembali. Jangan enggan untuk berkomentar agar bisa saling belajar. Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Google+


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*