informasi ibu dan anak, parenting, keluarga, bayi, kehamilan>

Tips Mengatasi Anak Suka Menghisap Jempol

Menghisap jempol merupakan kebiasaan yang sangat wajar bagi bayi. Bayi usia 0-18 bulan masih dalam tahap fase oral, fase dimana kepuasan bayi terletak pada mulut. Dikutip dari laman belajarpsikologi.com, menurut Sigmund Freud sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks menghisap adalah sangat penting. Refleks menghisap sangat penting, salah satunya untuk menghisap puting susu ibu.

Sejak dalam kandungan, bayi selalu suka menghidap jempol tangannya. Maka ketika ia lahir kedunia, hal yang paling dekat dengannya adalah puting ibu dan jempol tangannya. Bila bayi masih berusia 0-18 bulan, biarkan ia menikmati masa-masa oralnya dengan menghisap jarinya. Ketidakpuasan masa oral pada saat bayi akan berdampak pada masa dewasanya, bayi bisa memiliki ketergantungan lain seperti sudah lepas dari dot, suka menggigit kuku atau menjadi perokok.

Menghisap jempol masih dikatagorikan wajar, tapi jika ia sudah berusia 3 tahun, ibu harus waspada dan berusaha mengatasi kebiasaan sikecil ini. Berikut beberapa hal yang menyebabkan anak suke menghisap jempol;

  1. Disapih sebelum dua tahun

Perilaku anak suka menghisap jempol biasanya terjadi pada anak yang disapih sebelum usia dua tahun. Hal ini terjadi karena perkembangan masa oral bayi kurang terpenuhi. Memang tidak semua bayi yang disaih sebelum usia dua tahun suka menghisap jempol, tapi hal ini bisa terjadi pada beberapa anak (baca juga: cara menyapih anak dengan cinta).

  1. Mengalami ketegangan emosional

Ada anak suke menghisap jempol karena disebabkan mengalami ketegangan emosional seperti tertekan, kaget atau takut. Anak akan merasa nyaman bila telah menghisap jempol tangannya. Kenyamanan yang didapat anak ini bisa berlangsung lama atau hanya ketika ia menghisap jempolnya. Inilah yang dikhawatirkan para psikolog yang akan berdampak anak akan asyik dengan dunianya sendiri. Hal ini dapat berakibat anak kurang peduli pada lingkungan yang ada disekitarnya.

  1. Kurang kasih sayang

Beberapa anak yang sering ditinggal orang tua dan kurang kasih sayang memiliki kecenderungan suka menghisap jempol. Menghisap jempol kadang berarti kurang sentuhan kasih sayang orang tua. Seperti yang teah disampaikan diatas, dengan menghisap jempol anak menemukan kenyamanan.

  1. Mencari perhatian

pada anak-anak tertentu, terkadang menghisap jari tangan ini dilakukan untuk mencari perhatian dari orang tuanya. Hal ini dilakukan ustru karena mengatahui bahwa orang tuanya tidak membolehkan atau tidak suka jika ia menghisap jempolnya. Bahkan tidak hanya suka menghisap jempol, ia juga melakukan kegiatan lain yang tidak disukai orang tuanya, misalnya menggigit-gigit kukunya. Anak yang melakukan perbuatan ini tidak ingin membuat orang tua menyukainya, tapi hanya ingin memencari perhatian.

Irulah beberapa sebab mengapa anak suka menghisap jempol. Bagi beberapa orang kebiasaan anak ini masih dikatagorikan wajar, akan tetapi kebiasaan buruk ini harus dihentikan karena berpengaruh pada tumbuh kembang psikologi anak. Kebiasaan ini juga dapat berdampak pada kehidupan sosial anak, mempengauhi benuk gigi dan wajah. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebiasaan anak suka menghisap jempol;

  • Ketika anka masih dibawah 18 bulan, biarkan ia menggigit jempolnya sesuai keinginannya. Sebagai catatan, pastikan tangannya selalu bersih.
  • Ketika menyapih sikecil, jangan alihkan pada media lain seperti dot atau empeng. Dot dan empeng hanya membuat ketergantungan baru dan cara menyapihnya lebih sulit.
  • Tunjukkan kasih sayang anda pada sikecil agar ia merasa nyaman dan tidak mencari kenyamanan lain selain dari keluarga.
  • Anda mulai bisa mengajarkan untuk tidak menghisap jempol dengan menarik tangannya perlahan tiap ia ingin melakukannya. Ingat, lakukan dengan lembut, penuh kasih sayang dan sabar. Memaksa sikecil hanya akan membuatnya lebih sering melakukannya.
  • Berikan pengertian padanya bahwa menghisap jempol bisa berakibat buruk.
  • Alihkan pada aktivitas yang menyenangkan, misalnya aktivitas yang membutuhkan tangan sepeti bermain bola.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan dibagikan melalui tombol di atas. Jangan lupa bookmark untuk memudahkan berkunjung kembali. Jangan enggan untuk berkomentar agar bisa saling belajar. Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Google+


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*