X
    Categories: Menyusui

10 Fakta Makanan Terlarang Ibu Menyusui

Bolehkan ibu hamil puasa saat bulan ramadhan?

Banyak informasi yang keliru beredar di masyarakat luas mengenai makanan terlarang ibu menyusui. Banyak makanan yang dilarang dikonsumsi padahal sejatinya kandungan dalam makanan tersebut jutru dibutuhkan ibu dan bayi. Maka banyak ibu-ibu muda yang bertanya-tanya, makanan apa saja yang menjadi makanan terlarang ibu menyusui? Sebenarnya tidak ada makanan terlarang bagi ibu menyusui, asal dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Penting kiranya bagi ibu menyusui menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dengan asupan makanan yang mengandung gizi dan nutrisi seimbang.

Ibu hanya harus rajin mencermati reaksi bayi setelah ibu mengkonsumsi makanan tertentu. Hal ini untuk mendeteksi adanya alergi pada bayi. Bila dalam keluarga anda terdapat riwayat alergi, anda boleh berhati-hati dengan makanan pemicu alergi seperti kacang-kacangan, seafood atau produk susu. Tetapi anda harus tetap mengobservasi reaksi anak terhadap makanan tersebut.

Nah, mari kita luruskan makanan apa saja yang dianggap menjadi makanan terlarang ibu menyusui.

  1. Makanan Pedas

Makanan pedas seringkali dilarang dikonsumsi ibu menyusui karena takut anak menjadi diare/mencret karena ASI bisa jadi mengandung unsur cabai. Betul nggak sih? Rasa pedas pada cabai timbul karena senyawa capsaicin yang membuat sensasi panas dan pedas dilidah. Makanan pedas akan diserap oleh tubuh ibu terlebih dahulu, baru za-zat makanan tersebut diproduksi menjadi ASI. Bayi tidak akan merasakan pedas pada ASI yang terkandung zat capcaisin. Akan tetapi, beberapa bayi mungkin sangat sensitif dan memiliki alergi terhadap senyawa capcaisin. Tetaplah memantau dan mengobservasi keadaan bayi anda ketika mengkonsumsi makanan ini. Ibu juga perlu memperhatikan jumlah makanan pedas yang ibu konsumsi, bila terlalu banyak bisa jadi ibu yang terkena diare dan dapat mengganggu proses menyusui.

  1. Kafein

Ibu suka ngopi? Boleh nggak sih ngopi saat menyusui? Kopi merupakan minuman yang dikenal dengan kandungan kafein tinggi. Sebenarnya tidak hanya kopi yang mengandung kafein. Makanan/minuman lain yang mengandung kafein seperti soda atau cola, obat pereda nyeri/demam, coklat dan teh juga mengandung kafein. Kafein yang masuk dalam tubuh bayi akan mengakibatkan bayi menjadi aktif, terjaga dan mungkin rewel. Ada baiknya konsumsi kafein pada ibu menyusui dibatasi sampai bayi berumur 3-4 bulan karena pada usia ini metamobolisme kafein pada bayi mulai terbentuk. Bila ibu ingin mengkonsumsi kafein, ada baiknya memperhatikan perilaku bayi. Bila setelah mengkonsumsi kafein bayi terlihat rewel, sebaiknya hentikan konsumsi kafein.

  1. Ikan/seafood

Banyak orang tua melarang ibu hamil mengkonsumsi ikan karena takut ASI menjadi amis. ASI yang amis dapat mengakibatkan bayi dan fesesnya menjadi amis. Padahal, ikan memiliki manfaat yang luar biasa. Ikan mengandung omega-3 yang sangat penting untuk perkembangan otak bayi.

  1. Makanan Panas atau Dingin

Makanan panas atau dingin hanya dapat dirasakan oleh lidah. ASI dalam tubuh tidak dipengaruhi suhu makanan ketika masuk dalam perut ibu, tetapi dipengaruhi oleh suhu tubuh ibu yakni sekitar 37-38°. Konsumsi makanan dingin seperti es yang terlalu berlebihan dikhawatirkan akan membuat kesehatan ibu menurun karena terserang flu. Selebihnya makanan panas atau dingin tidak mempengaruhi produksi ASI.

  1. MSG

MSG merupakan monosodium glumate yang merupakan zat adiktif yang dapat membahayakan kesehatan. Kontroversi MSG telah berlangsung lama, namun penggunaanya masih dapat ditemukan dimana-mana, baik diwarung makan maupun dalam makanan rumahan. MSG seringkali digunakan sebagai penyedap karena sifatnya yang dapat mengikat rasa sehingga membuat bumbu dapur lebih terasa dan lebih sedap.

Konsumsi MSG pada ibu menyusui dapat mengakibatkan pusing. Bila dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan masalah syaraf seperti mati rasa, kesemutan, area wajah dan leher terasa terbakar. Kondisi terburuk yang dapat diakibatkan MSG seperti  diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, disfungsi tiroid, obesitas, asma, autisme, alergi makanan dan kerusakan mata. Bayi yang menyusu bisa terkena efek MSG melalui ASI.

  1. Produk Susu

Produk turunan susu sintesis sulit dicerna oleh pencernaan bayi. Beberapa bayi  alergi terhadap produk turunan susu sintetis seperti susu sapi. Produk turunan tersebut berupa keju, yogurt dan eskrim. Bila bayi memang alergi terhadap turunan sapi sintesis ini, bayi dapat mengalami gatal-gatal dengan kulit merah merata ketika ibu menyusui mengkonsumsi makanan tersebut. Sebaiknya selalu observasi reaksi bayi setelah mengkonsumsi makanan turunan susu sintesis.

  1. Alkohol

Alkohol menimbulkan banyak masalah pada bayi jika ia minum ASI yang mengandung alkohol. Alkohol dapat menyebabkan berat badan berlebihan dan tidak biasa pada bayi. Minuman keras ini juga dapat menyebabkan kelemahan dan kurang tidur pada bayi.

  1. Lemak Jenuh dan Lemak Trans

Lemak jenuh yang tinggi terdapat pada gorengan yang menggunakan minyak bekas dan fastfood. Fastfood seperti hotdog, pizza atau hamburger mengandung lemak trans yang dapat membahayakan kesehatan.

Lemak jenuh dan lemak trans dapat membahayakan perkembangan otak bayi karena kedua lemak tersebut dapat menghambat produksi omega-3 pada ASI. Omega-3 sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak bayi, kekurangan omega-3 dapat mengurangi kecerdasan sikecil.

  1. Alkohol

Alkohol selalu dilarang dikonsumsi bagi ibu hamil dan menyusui. Dampak negatif yang dapat diakibatkan alkohol bisa merusak dan mengganggu kesehatan tubuh.

  • Mie instan

Nilai nutrisi dan gizi yang terkandung dalam mie instan boleh dibilang minim. Makanan cepat saji ini sebenarnya tidak disarankan untuk ibu hamil karena bisa berpengaruh pada penurunan kualitas ASI. ASI menjadi kurang memenuhi strandar gizi, padahal bayi membutuhkan gizi seimbang untuk tumbuh kembangnya. Selain itu, mie instan mengandung zat adiktif berupa MSG yang juga membahayakn kesehatan. Ingat mam, jangan makan asal kenyang, tapi makan sedikit demi sedikit dengan gizi yang seimbang.