Info Pendidikan Indonesia>

10 Mitos Menyusui yang Harus Anda Tahu



panduan menyusui bayi baru lahir

Mitos menyusui banyak beredar bahkan dipercaya oleh masyarakat, khusunya ibu-ibu muda. Sayangnya, banyak informasi seputar mitos menyusui yang menyesatkan bisa berdampak kurang baik pada program menyusui. Padahal, akses informasi sudah semakin mudah dan murah. Mari kita simak bersama-sama, mitos menyusui apa yang perlu diluruskan.

1. Produksi ASI kurang

Tidak ada istilah ASI kurang dalam program menyusui. ASI diproduksi berdasarkan permintaan dari bayi, semakin banyak bayi menyusu semakin banyak produksi ASI. Permasalahan dalam menyusui sebenarnya terletak pada masalah pelekatan atau posisi mulut bayi pada payudara ibu. Pelekatan yang keliru tidak dapat mengeluarkan ASI dengan maksimal sehingga kebutuhan ASI bayi tidak tercukupi.

Pelekatan yang benar ditandai tidak adanya lecet atau nyeri pada puting ketika bayi menyusu. Ketika hendak menyusui pastikan mulut bayi terbuka. Dekatkan bayi anda ke payudara dan biarkan mulutnya melakukan kontak langsung dengan kulit payudara. Bila puting sudah masuk, usahakan daerah aerola masuk kemulut bayi, terutama aerola bagian bawah.

2. Ibu yang sakit tidak boleh menyusui

Banyak orag percaya bahwa ibu tidak boleh menyusui ketika demam, flu, diare atau batuk. Pasalnya, ibu yang sedang demam mengalami penurunan kualitas ASI, selain itu virus atau bakteri dari ibu dapat menulari bayi. Tentu pendapat tersebut salah besar. Menyusui ketika demam justru dapat membuat bayi lebih tahan terhadap virus dan bakteri. ASI mengandun antibiotik alami yang mampu menguatkan kekebaan tubuh. Apabila sang bayi juga tertular, maka ia bisa pulih lebih cepat.

Ketika pelekatan keliru dan ibu mengalami lecet diputing, proses menyusui bisa menyembuhkannya dengan lebih cepat. Tetap susui bayi anda dengan puting yang luka. Gesekan kulit payudara dan mulut bayi yang dilumasi oleh ASI akan membuat lecet pada puting lebih cepat sembuh.

3. Ibu menyusui tidak boleh minum obat

Bila ibu menyusui terkena sakit tentu arus mendapatkan pengobatan, tetapi pengobatan yang tepat. Ada beberapa obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi ibu hamil, yang jutru terkandung dalam beberapa obat generik. Obat generik seperti obat sakit kepala, flu, demam, batuk bahkan bisa ditemukan dengan mudah diwarung-warung. Maka ibu perlu berhati-hati dalam memilih obat, lebih baik konsultasikan dengan dokter. Bukan berarti tidak boleh minum obat saat sakit. Obat yang dikonsumsi ibu tidak serta merta menjadi ASI. Segala macam makanan yang masuk dalam tubuh ibu akan disaring menjadi sari-sari makanan. Sari-sari makanan terbaik akan menjadi ASI. Kadar obat yang masuk kedalam tubuh hanya sedikit sekali yang bisa menjadi ASI.

4. Ibu menyusui punya banyak makanan pantangan

Pada prinsipnya ibu menyusui boleh mengkonsumsi makanan apa saja. Seorang ibu menyusui boleh mengkonsumsi makanan apapun dengan catatan tidak berlebihan. Makan jenis makanan tertentu secara berlebihan tidak baik untuk kesehatan dan kualitas ASI. Hanya saja, ada beberapa makanan yang memiliki kadar gizi kurang sehingga tidak perlu dikonsumsi (baca juga: 10 makanan pantangan bagi ibu menyusui). Ibu menyusui harus mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang sehingga asupan gizi yang dibutuhkan sikecil bisa terpenuhi.

5. Ibu menyusui harus makan untuk dua orang

Menyusui merupakan proses dimana sikecil tumbuh dan berkembang dengan ketergantungan kuat terhadap ibu. Tetapi tidak berarti ibu harus makan untuk dua orang. ASI selalu diproduksi cukup untuk bayi sesuai dengan kebutuhannya. Bila asupan gizi kurang, ASI akan mengambil zat-zat cadangan dalam tubuh ibu untuk disalurkan pada sikecil melalui ASI. Bila memang merasa lapar, ibu boleh makan secukupnya. Tak perlu memaksa diri untuk makan lebih banyak.

6. Sehabis menyusui ibu harus minum air putih

Ibu menyusui tak perlu menyiksa diri minum sebanyak-banyaknya untuk mencukupi kebutuhan cairan sikecil. Minumlah sesuai dengan kebutuhan dan rasa haus. Ada beberapa ibu yang haus sehabis menyusui, ada yang tidak. Semuanya normal-normal saja. Tak perlu terpaku dengan ketentuan harus minum sehabis menyusui.

7. Wanita dengan puting datar atau terbenam tidak bisa menyusui.

Bayi tidak menyusupada puting, melainkan pada payudara. Jadi, mekipun puting ibu terbenam bayi tetap bisa menyusu. Meskipun bayi lebih mudah melekat pada puting yang menonjol. Pelajari pelekatan yang benar agar bayi bisa menyusu dengan baik dan nantinya akan terbiasa dengan puting yang datar. Tak perlu buru-buru mengenalkan bayi dengan dot karena justru akan berdampak kurang baik. Bayi akan ketergantungan dot atau mengalami bingung puting.

8. Wanita hamil tidak boleh menyusui

Banyak kasus sundulan (masih menyusui tapi hamil lagi) ditemukan di Indonesia. Jarak usia kakak dan adik seringkali tidak terpaut jauh. Sayangnya banyak mitos yang beredar dimasyarakat kalau menyusui dalam keadaan hamil tidak boleh dilakukan. Pasalnya, ASI tidak seperti dulu lagi tetapi sudah bercampur darah. Banyak teori tundem nursing yang bisa anda pelajari. Banyak pula ibu-ibu hebat yang berhasil melakukannya.

9. ASI yang tidak disusui bayi selama lebih dari tiga hari menjadi basi.

Tentu saja tidak. ASI tidak seperti susu formula yang bisa basi. ASI memiliki media penyimpan yang sempurna, yakni tubuh ibu. Meski beberapa hari tak diminum, ASI akan tetap aman. Hanya saja, ada penumpukan lemak yang terjadi dalam kandungan ASI. Lemak ini juga tidak berbahaya, justru diperlukan bayi untuk memenuhi kebutuhan lemaknya.

10. Bila bayi sakit, ibu yang harus minum obatnya.

Banyak yang beranggapan bila bayi sakit, cukup ibu yang minum obatnya. Pasalnya obat yang diminum ibu akan menjadi ASI juga. Tentu ini anggapan yang keliru. Mitos. Bila ibu sakit, ibu yang diobati, bila bayi yang sakit maka bayi yang diobati. Oba yang dikonsumsi ibu kan disaring menjadi sari-sari makanan. Hanya sari makanan terbaik yag diproses menjadi ASI. Kalaupun obat tersaring menjadi ASI, tentu dosisnya tak seberapa. Dikutip dari laman facebook milik AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), meskipun demikian ada beberapa kategori obat yang tidak boleh diminum oleh busui karena bisa berpengaruh di ASI atau berbahaya bagi bayi. Lagipula jenis obat dan dosis obat untuk dewasa dan bayi itu berbeda Misalnya, obat batuk untuk anak dengan obat batuk untuk dewasa jelas berbeda. Contoh yang paling sederhana, dosis paracetamol. Untuk dewasa konsumsinya 500 mg sekali minum. Untuk bayi dosis paracetamol harus disesuaikan dengan usia dan berat badan.



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*