informasi ibu dan anak, parenting, keluarga, bayi, kehamilan>

Dongeng Sebelum Tidur; Kidang Nyolong Mbayung

kidang nyolong mbayung
kidang nyolong mbayung

Seorang anak yang aktif  kadangkala sulit mendengarkan. Ia akan tetap sibuk bermain saat ayah atau bunda memanggilnya. Anak akan terkesan tidak peduli pada situasi di sekelilingnya. Dalam kondisi yang cenderung berulang dan semakin menjadi perlu diwaspadai gejala autisme (spektrum luas) . Pada kondisi normal, ketika orang tua sedang membicarakan sesuatu, anak akan berusaha menyela menuntut perhatian, namun ketika anak diajak bicara secara fokus, ia cenderung tidak memperhatikan atau cuma menjawab sambil lalu. Salah satu strategi membuat anak memperhatikan secara serius adalah menyampaikan apa yang ingin dikatakan melalui ilustrasi. Salah satu bentuk ilustrasi adalah dengan media gambar, permainan, juga cerita.

Berikut contoh ilustrasi cerita

             Al kisah di suatu hari, seekor kidang induk sedang merumput bersama tiga anaknya di tepi sungai. Kidang induk terpesona melihat anak-anaknya yang dengan lahap makan rumput sambil bermain-main satu dengan yang lain.

            “ Sebentar lagi mereka akan menyusu dan mengempeskan dadaku,”pikirnya, “ Dan rumput-rumput ini tak cukup untuk membuat air susuku penuh.” Ia membatin dengan sedih.

            Di seberang sungai terhampar ladang mbayung yang hijau. Mbayung adalah tanaman sayuran yang berupa daun-daunan dari tanaman kacang panjang. Sekilas pandangan kidang induk tertuju ke sana, lalu menatap anak-anaknya, dan akhirnya kembali terpaku pada ladang yang hijau itu.

            Dengan lincah dan terampil, ia  melompat di atas batu-batu dan menyeberangi sungai. Ia mengendap-endap dan memakan mbayung selahap dan secepat mungkin.

            “ Selesai, cukup, aku sudah sangat kenyang.” Pikirnya. Ia berbalik dan hendak bergabung kembali dengan anak-anaknya. Tapi, niatan menyusui anaknya buyar seketika. Pak Tani berdiri angkuh, meghadang dengan galaknya.

            “ Jadi selama ini kau yang selalu merusak sayuran-sayuranku?” kata Pak Tani geram.

            “ Ti…ti…tidak. Ba…baru kali ini. Sungguh!” Kidang induk ketakutan.

            “ Aku tidak percaya dan aku tidak peduli sudah berapa kali kau mencuri mbayung-mbayung ku. Yang jelas kau sudah melakukan kesalahan. Kau harus dihukum. Istriku akan sangat senang kubawakan daging kidang.”

            Kidang induk terperanjat. Itu berarti bahwa ia akan disembelih. Pikirannya langsung melayang pada anak-anaknya. Ia menangis.

            “ Menyesal kemudian tiada berguna.” Kata Pak Tani.

            “ Saya tahu.” Kidang induk menjawab lirih.

            “ Tapi izinkan saya menemui anak-anak saya di seberang sungai. Saya ingin menyusui mereka dulu dan berpamitan.” Lanjutnya memohon.

            “ Baiklah, aku tunggu kau di sini. Jangan mencoba-coba lari. Kalau sampai kau kabur, aku akan memburumu, juga anak-anakmu. Apa kau mengerti?” ancam Pak Tani. Kidang induk mengangguk lemah.

            Kidang induk berjalan gontai menyeberangi sungai. Kidang-kidang kecil rupanya sudah menunggu. Mereka menyaksikan apa yang barusan terjadi pada ibunya. Sambil terisak si induk berkata,

            “ Anak-anakku, ibu telah melakukan kesalahan. Pak Tani akan menghukum ibu karena ibu mencuri mbayungnya. Ibu ingin menyusui kalian untuk terakhir kali. Setelah ini ibu akan benar-benar pergi dan tak kan kembali.”

            Kidang-kidang kecil saling berpandangan. Lalu mereka menggeleng. Kidang induk terkejut tak percaya. Sorot matanya menyiratkan pertanyaan mengapa.

            “ Bu, air susumu sudah tercemar karena ibu mencuri mbayung Pak Tani. Kami tidak ingin meminumnya. Ibu jangan khawatir, kami akan baik-baik saja. Kami akan merumput di sepanjang sungai ini dan meminum air sungai. Airnya sangat jernih, Bu!”kata Si Sulung.

              Kidang induk sangat terpukul mendengar jawaban anaknya. Ia menyayangi anak-anaknya dan sekarang mereka tak mau menyusu lagi. Ia benar-benar menyesali perbuatannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia harus tabah menjalani hukumannya. Disembelih tak seberapa sakitnya dibandingkan dengan ditolak anak-anaknya sendiri.

            “ Baiklah, Ibu akan pergi. Jaga diri kalian baik-baik. Ibu menyayangi kalian. Maafkan Ibu…” Kidang induk berpamitan.

            Kidang induk berjalan gontai dan tak berdaya meninggalkan anak-anaknya. Menyeberangi sungai, menuju ladang Pak Tani dan menyerahkan diri.

            “ Kami juga menyayangimu, Bu!” bisik anak-anak kidang itu. Mereka memandang kepergian ibunya tanpa berkedip. Bulir-bulir bening menetes dari mata mereka.

            “ Selamat tinggal, Ibu. Kami menyayangimu.” Ucap si sulung sambil memeluk dua adiknya.

dongeng sebelum tidur di masa kecil

 

Keterangan:

Kidang       : Kijang

Nyolong     : Mencuri

Mbayung   : Daun-daunan dari tanaman kacang panjang

(har)

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan dibagikan melalui tombol di atas. Jangan lupa bookmark untuk memudahkan berkunjung kembali. Jangan enggan untuk berkomentar agar bisa saling belajar. Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Google+


Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*